Selasa, 08 Maret 2022

Evaluasi PEPES (Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak Restoran) sebagai Upaya Optimalisasi Penerimaan Pajak Restoran Kabupaten Pidie

 

Pajak Daerah merupakan salah satu pajak yang diandalkan dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam Undang-Undang 1945, kewajiban perpajakan ditetapkan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kewarganegaraan dan sebagai sarana yang berperan dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, memberikan kewenangan yang lebih besar bagi daerah dalam perpajakan. Dengan semakin besarnya tanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat, maka pemungutan pajak daerah memiliki dasar hukum (Undang-Undang, Peraturan Pemerintah atau Peraturan Daerah) yang kuat dalam menjalankan perpajakan daerah tersebut, termasuk didalamnya pemungutan jumlah 10% (sepuluh persen) untuk PajakRestoran.

Aceh sendiri merupakan daerah otonom yang melaksanakan pembangunan dan merupakan daerah yang sedang mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam hal pembangunan infrastruktur yaitu masjid-masjid serta peningkatan penerimaan pajak daerah. Di Kabupaten Pidie salah satu pajak daerah yang merupakan sumber penerimaan yang potensial apabila dimaksimalkan adalah pajak restoran. Sesuai data dari Dinas Pengelola Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah (DPKPAD) Kabupaten Pidie, Restoran/Rumah Makan yang ada berjumlah ratusan Restoran/Rumah Makan dan juga dapat memenuhi sebagai penghasilan daerah pidie sebesar 768.337.687 dari total APBK daerah kabupaten PIDIE.

Aceh yang merupakan daerah otonomi khusus yang berlanndaskan syariat islam, menyelenggarakan peraturan dengan menggunakan Qanun sebagai PERDA (peraturan daerah) yang sejenis dengan Undang-Undang daerah, yang di bentuk setelah aksi damai MOU (Memorandum Of Understanding) pada tanggal 15 agustus 2005 yang menandakan kilas baru aceh dalam hidup damai sejahtera. Dalam hal pajak restoran, Kabupaten Pidie sendiri mengaturnya dalam Qanun Kabupaten Pidie Nomor 15 tahun 2011.

Sebelum kita melanjut ke pokok permasalahan kita, mari kita ketahui dulu bagaimana pencapaian pajak restoran di daerah kabupaten Pidie

Qanun tentang pajak restoran ini telah di setujui oleh DPRK kabupaten pidie yang di laksanakan oleh jajaran pemerintah kabupaten Pidie. Pajak retoran ini merupakan salah satu dari pajak daerah yang di pungut oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah kabupaten pidie. Karena saya membahas tentang pajak daerah yaitu pajak atas restoran, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu pengertian retoran yang menurut Qanun Kabupaten Pidie Nomor 15 tahun 2011.

Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran kepada para konsumen. Adapun yang di maksud dengan restoran ia memiliki kriterianya tersendiri. Restoran adalah sebuah tempat fasilitas penyedia makanan dan/minuman yang di pungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk boga/katering.

Selain itu, untuk menghindari perang tarif pajak antar daerah untuk objek pajak yang mudah bergerak, ditetapkan juga tarif minumum untuk pajak tertentu, untuk meningkatkan akuntabilitas pengenaan pungutan. Dalam Qanun pajak daeran kabupaten pidie ini sendiri menyatakan bahwa sebagian hasil pajak restoran dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang berkaitan dengan pajak tersebut.

Berdasarkan PDRD tahun dasar 2011 atas harga berlaku, struktur perekonomian Kabupaten Pidie dari tahun 2011 hingga 2018 relatif tidak berubah, dimana hampir 80  persen ditentukan oleh dua sektor utama yaitu: sektor pertanian serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor pertanian masih mendominasi struktur perekonomian Kabupaten Pidie dengan kontribusi melebihi 70 persen terhadap pembentukan PDRD, sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi sekitar 8persen.

Pada tahun 2011 peranan sektor pertanian terhadap pembentukan pendapatan Kabupaten Pidie Jaya mencapai 74,15 persen. Tingginya peranan sektor pertanian sangat ditentukan oleh subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor peternakan. Pada tahun 2018 sumbangan subsektor ini mencapai 31,11 persen diikuti subsektor peternakan dengan sumbangan sebesar 21,50persen.

Sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap perekonomian Pidie adalah perdagangan, hotel, dan restoran. Pola perkembangan sektor ini cenderung meningkat. Pada tahun 2011 kontribusi yang diberikan oleh sektor ini sebesar 8,20 persen, sedangkan pada tahun 2018 naik menjadi 8,81 persen. Hampir seluruh kontribusi dari sektor ini berasal dari subsektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 7,26 persen pada tahun 2018.

Peranan Sektor Ekonomi dalam Pembentukan

Kabupaten Pidie Tahun 2014–2018 (Persen)

Dan untuk pajak daerah yang kita fokuskan yaitu untuk pajak restoran, Sektor ini berperan sebagai penunjang kegiatan ekonomi yang menghasilkan produk barang dan jasa. Andil sektor ini terhadap penghasilan  Kabupaten Pidie pada tahun 2011 mencapai 8,20 persen dan pada tahun berikutnya mengalami peningkatan hingga mencapai 8,81 persen pada tahun 2018. Subsektor hotel serta subsektor restoran/rumah makan relatif kecil sumbangannya terhadap pendapatan kabupaten  Pidie. Pada tahun 2018 sumbangan subsektor hotel hanya 0,02 persen dan sumbangan subsektor restoran/rumah makan sebesar 1,52persen

Pertumbuhan sektor restoran pada tahun 2018 sebesar 2,87 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun 2017 yang tumbuh hanya sebesar  2,63 persen. Hal ini seiring dengan membaiknya distribusi/ arus barang. Pertumbuhan sektor ini didukung oleh subsektor perdagangan yang mengalami pertumbuhan 2,96 persen,  subsektor hotel tumbuh 1,03 persen, dan subsektor restoran/rumah makan tumbuh 2,44persen.

Peranan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Menurut Subsektor Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Pidie Tahun 2011 – 2018

Sektor/Subsektor                        2011

 

2012

 

2013

 

2014

 

2015

 

2016

 

2017

 

2018

Perdagangan, Hotel, dan

Restoran                                              8,20

 

8,42

 

8,39

 

8,29

 

8,33

 

8,47

 

8,57

 

8,81

a.Perdagangan                                         6,85

7,05

6,95

6,91

6,95

7,06

7,20

7,26

b.Hotel                                                  0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

0,02

c.Restoran                                              1,33

1,35

1,42

1,36

1,35

1,39

1,34

1,52

BukanSektorPerdagangan,                91,80

91,58

91,61

91,71

91,67

91,53

91,43

91,19

 

 
 

Adapun tidak semua restoran di kenakan pajak daerah ada ketentuan khusus yang mengaturnya, sebagaimana yang telah di jelaskan dalam pasal 3 ayat 3 menyatakan bahwa, restoran yang memiliki pengehasilan di bawah Rp300.000 per bulan tidak termasuk objek pajak dalam pajak daerah kabupaten Pidie. Karena menurut kesepakatan pemerintah bersama DPRK kabupaten pidie yang dapat di kenakan pajak daerah atas pelayanan restorannya adalah pajak daerah yang memperoleh nominal di atas Rp300.000.

Untuk pajak restoran ini juga di kenakan tarif yang di gunakan adalah sebesar 10% dari total penghasilan atas pelayanan restoran yang di kenakan pajak daerah kabupaten pidie. Pajak atas pelayanan tersebut dikenakan dalam jangka waktu satu bulan kalender berbeda dengan PPh atau pajak lainnya, pajak restoran ini wajib di sampaikan kepada pihak yang berwenang jika sudah terjadi pelayanan pada restoran tersebut. Sebab masa pajak yang di tetapkan oleh pihak yang berwenang hanya satu bulan pada kalender kecuali telah di tetapkan oleh bupati, maka batas akhir pelaporan atas pajak terutangnya adalah selama tujuh hari setelah berakhirnya masa pajak. Jika terdapat libur nasional yang ada dalam kalender tersebut maka yg di hitung tetap 30 hari untuk hari kerja dalam proses membayar pajak yang terutang tersebut. Untuk restoran yang memiliki omzet yang melebihi Rp300.000.000 (tiga ratus juta) dia wajib melakukan pembayaran pajaknya dengan menggunakan sistem pembukuan dalam membayar pajaknya.

Sudah tau kan, bagaimana pajak di kabupaten pidie, sekarang mari kita tinjau kasus berita yang terkait pajak restorannya

ANGKA FANTASTIS TUNGGAKAN PAJAK WARKOP

Sektor usaha warung kopi dan rumah makan menjadi “penyumbang” tunggakan pajak terbesar di Kab.Pidie. Selama dua tahun, tunggakannya mencapai Rp600 juta lebih. Himbauan taat bayar pajak sepertinya tak kunjung digubris oleh sebagian pengusaha di Kab. pidie. Sehingga, kontribusi mereka untuk negara melalui ketaatan membayar pajak masih sangat minim.

Terbukti, sejumlah pengusaha restoran/warung kopi dan pengusaha reklame di daerah ini diketahui menunggak pajak seperti yang telah ditentukan. Padahal, sesuai dengan isi Qanun Kabupaten Pidie Nomor 15 tahun 2011. tentang pajak restoran, sertiap usaha yang memiliki omset di atas Rp300.000 per bulan termasuk jenis usaha yang mesti menyetor pajak.Tak tanggung-tangung, besarnya tunggakan pajak dari tiga bidang usaha tersebut kepada Pemerintah mencapai angka yang sangat fantastis. Hingga Agustus 2017, total tunggakan mencapai Rp658.629.754.

Badan Pengelolaan Keuangan (BPK) mencatat, tunggakan terbesar disumbangkan oleh pengusaha atau pemilik restoran dan warung kopi yang tersebar di sembilan kecamatan di Pidie. Angka tunggakan dari sektor tersebut mencapai Rp 600 juta lebih. Ironisnya, tunggakan pajak berasal dari pengusaha warung kopi dan rumah makan tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun.Selain rumah makan, tunggakan pajak juga disumbang oleh pengusaha reklame. Tunggakan pajak reklame dari belasan wajib pajak tersebut juga mencapai angka puluhan juta rupiah.

Kondisi ini tak pelak membuat Pemkab Pidie geram. Bagaimana tidak, akibat banyaknya tunggakan pajak membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kab Pidie berkurang. Kondisi ini tentunya akan berimbas pada pembangunan di Banda Aceh. Kepala BPK Kab Pidie mengatakan, untuk mengejar tunggakan pajak tersebut pihaknya telah membentuk tim terpadu antara Polri, TNI, kejaksaan dan Satpol PP. Tim ini akan memback-up kerja tim dari  Pengelolaan Keuangan Kab Pidie.

Sejak sebulan terakhir, sambung Purnama, tim terpadu gencar melakukan operasi dan menjemput bola ke pengusaha yang mangkir dari kewajibannya. “Kita telah mengambil tindakan terkait dengan masalah ini. Kita telah melakukan operasi gabungan dengan Polri, TNI dan Satpol PP untuk mendatangi setiap wajib pajak yang menunggak,” sebut Purnama Karya. Kepada Pikiran Merdeka, Purnama menyebutkan, sebelumnya tunggakan pajak mencapai angka Rp1,2 miliar. Angka tersebut berasal dari tiga objek pajak yakni pengusaha hotel, restoran dan reklame.

Namun, belakangan angka tersebut dapat ditekan setelah pihaknya memberi peringatan dan menagih tunggakan kepada wajib pajak. “Ada beberapa hotel mewah seperti Grand Blang Asan, Hotel cempaka dan Hotel safira sebelumnya menunggak. Namun sudah dibayar setelah diberi peringatan,” sambung Purnama.Terhadap pengusaha yang mangkir atau tidak ada itikad baik untuk melunasi tunggakan, Purnama menegaskan, Pemko Banda Aceh akan menyegel usaha tersebut.Pemerintah Kota, sambung Purnama, akan terus melakukan penagihan sehingga dapat mencapai target PAD yang telah ditetapkan dari Pajak hotel sebesar Rp9.220.000.000, pajak restoran sebesar Rp8.200.000.000, dan pajak reklame sebesar Rp4.925.000.000.

Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Pidie angkat bicara terkait masih tingginya jumlah tunggakan pajak dari para pengusaha restoran dan reklame. Menurutnya, pemerintah melalui dinas terkait tidak boleh tinggal diam dengan masalah tersebut. “Tindakan tegas harus diambil oleh pemerintah untuk menertibkan pengusaha yang mangkir dari kewajibannya,” katanya.Pun demikian, politisi PKS ini meminta pemerintah kota untuk melakukan pendekatan secara persuasif dengan pengusaha yang tertunggak pajaknya. “Ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada tindakan tegas. Namun harus tetap mengedepankan cara persuasif untuk atasi penunggak pajak,” ujarnya kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (5/8).

Menurut nya, sektor pajak termasuk memiliki peranan penting dalam membangun Kab Pidie. Untuk itu, harus dikelola secara serius sehingga dapat menambah PAD Kota Pidie. Secara tegas, juga meminta kepada pengusaha di Kab Pidie agar taat membayar pajak. “Pengusaha kan juga mendapat fasilitas dari pemerintah, sudah seharusnya memberikan kontribusi dengan taat membayar pajak. Sehingga pembangunan ke depan dapan lebih baik,” tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.Ke depan, pemerintah berharap agar masalah tunggakan pajak ini tidak lagi terjadi. Untuk itu, dirinya meminta agar  pemerintah kota membenahi kinerja dinas terkait. “Di samping membenahi sistem, kepala daerah yang baru juga harus menjadi momentum bagi Pemkab untuk menggandeng para pengusaha agar ke depan tidak lagi menunggak pajak. Yang jelas, fenomena ini ke depan tidak boleh ada lagi,” tutupnya.

Menurut saya

Permasalahan yang ada di kabupaten pidie ini terletak pada kurangnya perhatian pemerintah setempat dalam memantau pendapatan daerahnya sehingga terlalu berharap penghasilan yang di dapat dari pusat, seharusnya pemerintah memberikan penyuluhan dan pengetahuan serta sosialisasi kepada para pengusaha tersebut untuk taat membayar pajak, sebab jika hal itu tidak di laksanakan dengan benar maka hal tersebut akan merugikan negara dan pihak restoran tersebut akan di kenai denda berupa sanksi atas tindakan kriminal tersebut.

Dan kesalahan kedua yang di lakukan pemerintah adalah pemerintah yang mencantumkan peraturan batas minimal untuk pajak restoran di kabupaten Pidie sebesar Rp300.000 per bulan, karena akan sulit dalam menangkap pajaknya, sehingga tukang jualan gorengan dan jualan bakso juga akan di kenakan atas pelayanan pajak restoran tersebut, mungkin karena pemerintah berpikir yang perlu di stabilkan itu penghasilan terbesar di kabupaten pidie yaitu sektor pertanian dan perternakan, sehingga kepedulian terhadap pajak sektor restraan ini kurang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Oleh karena itu pemerintah kabupaten Pidie bersama dengan DPRK kabupaten Pidie seharusnya merevisi Qanun Kabupaten Pidie Nomor 15 tahun 2011 tersebut, terkait dengan batas minimumnya

Sebab jika tetap di tetapkan batas minimum senilai 300.000 tersebut maka restoran-restoran kecil seperti restoran bakso rudal yang ada di kecamatan sigli akan merasa enggan membayar pajaknya, karena mungkin omsetnya sangat sedikit tapi harus di kenai pajak, karena melebihi 300.000 yaitu batas minimum di kenakannya pajak restoran.

Memang benar dalam hal warung kopi daerah pidie memiliki banyak warung kopi dan selalu sangat banyak pengunjungnya, semakin banyaknya warung kopi yang di bangun seperti jamur, seharusnya PAD(pendapatan asli daerah) nya menjadi semakin banyak, karena restoran tersebut juga sudah di berikan fasilitas oleh pemerintah yaitu salah satunya memberikan izin membuka usaha. Oleh sebab itu pemerintah seharusnya lebih peka lagi dalam memantau wajib pajak yang nakal dan mencoba merevisi peraturan pajak restoran yang minimal omsetnya 300.000. jika di bandingkan dnegan kabupaten lain seperti tetangga kabupaten pidie, yaitu kota banda aceh yang target penerimaat pajaknya yaitu kepada wajib pajak yang memiliki omsetnya melebihi 10 juta per tahun, hal ini sesuai dengan peraturan UU yang berlaku yaitu mensetahunkan pajaknya, seharusnya pemerintah kabupaten pidie juga mensetahunkan pajaknya sehingga menjaga pajak dalam bentuk SPT Tahunan, bukan lagi dalam bentuk SPT masa.

Sekian dari saya J

Terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada pak Benny Gunawan atas bimbingannya kepada saya semoga ilmu yg di berikan bermanfaat, dan berkah sehingga bisa saya implementasikan saat dunia kerja nanti

Aamiin Ya Rabb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar