hallo semuanya kali ini firah ingin sharing hasil dari makalah yang firah kerjakan selama berkuliah, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang mempunyai tugas membuatkan flowchart di mata kuliah atau yang berhubungan dengan perpajakan maupun proses bisnis perusahaan unilever. semoga bermanfaat semuanya.
A. PENDAHULUAN
Dalam era persaingan usaha yang
semakin kompetitif sekarang ini, setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan
kompetisi tentunya, dalam persaingan pasar akanmemberikan perhatian penuh pada
srategi pemasaran yang dijalankannya. Globalisasi merupakan tren di seluruh
dunia mengenai perekonomian dunia yang menjadi tanpa batas dan perusahaan yang
saling terkait tidak lagi dibatasi oleh batas-batas negeri mereka dan dapat
melakukan kegiatan bisnis di mana saja di dunia. Globalisasi berarti bahwa
perusahaan lebih cenderung untuk bersaing dimanapun dan kapanpun. Banyak
perusahaan yang saat ini menjual produk mereka dimanapun, memperoleh bahan baku
mereka atau mengadakan penelitian dan pengembangan (R&D), dan melakukan
produksi dimanapun.
PT Unilever Indonesia Tbk (perseroan)
yang didirikan pada tanggal 5 Desember 1933 dengan nama lever’s zeepfabreiken
N.V. dengan akta NO.23 oleh Tn. A.H. van Ophuijisen, notaris di Batavia,
disetujui oleh Gouverneur Generaal van Nederlandsch-Indie dengan surat No. 14
tanggal 16 Desember 1933, didaftarkan di Raad van Justitie di Batavia dengan
No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933, dan diumumkan dalam Javasche Courant
tanggal 9 Januari 1934, Tambahan No.3. Kegiatan usaha Perseroan meliputi bidang
produksi, pemasaran dan distribusi barang-barang konsumsi yang meliputi sabun,
deterjen, margarin, makanan berinti susu, es krim, produk-produk kosmetik,
minuman dengan bahan pokok teh dan minuman sari buah, dan penyewaan ruang
kantor.
Perusahaan dalam menjalankan
aktivitasnya baik perusahaan dalam bidang jasa maupun barang mempunyai tujuan
yang sama yaitu memperoleh keuntungan. Selain itu, perusahaan juga ingin
memberikan kepuasan kepada konsumen atas produk yang yang dihasilkannya karena
kepuasan konsumen menjadi tolak ukur dari keberhasilan perusahaan dalam
menghasilkan produk yang berkualitas dan yang diinginkan konsumen. PT Unilever
Indonesia unggul dengan brand-brand andalannya dalam katagori personal care
product seperti; Sunslik, Lifebuoy, Dove untuk perwatan rambut, produk
perawatan wajah seperti; Pond’s, Citra dan Vaseline. Produk perwatan tubuh dan
gigi, seperti; Lux, Lifebouy, Pepsodentserta parfum dan deodorant seperti Axe
dan Rexona. Unilever juga ungguluntuk brand-brand home care product-nya seperti
Rinso, Molto danSunlight. Keseluruhan home and care product ini merupakan total
penjualanterbanyak dari PT. Unilever. Sedangkan penjualan lainnya didapat dari
foodand ice cream product, seperti Sari Wangi, Blue Band, Royco, Buavita,
Bangodan Wall’s.
PT Unilever Indonesia melakukan
Initial Public Offering tanggal 11 Januari 1982 dengan jumlah saham yang diterbitkan sebanyak
9.200.000 lembar, dan per Des 2011 jumlah
saham yang terdaftar
dalam Bursa Efek
Jakarta sebanyak
7.630.000.000 lembar. Saat
ini PT Unilever
Indonesia memiliki 43 brand
yang terdiri dari 27 brandpada Home and Personal Care, serta 16 brand
pada food and beverages. Bersumber dari Laporan
Tahunan 2011, produk
dari Home and Personal Care ini
berkontribusi sebesar 73,3%
terhadap total penjualan PT Unilever, sedangkan produk dari food and
beverages berkontribusi sebesar 26,7% terhadap penjualan Unilever.
Jumlah karyawan
Unilever hingga tahun
2011 mencapai 6.043
orang dan memiliki 429
distributor di seluruh
Indonesia. Dilihat dari
siklus industri, Unilever sudah
mencapai tahap mature dimana
pada tahun 2000
PT Unilever Indonesia Tbk.
mengakuisisi kecap bango,tahun 2008
mengakuisisi bisnis minuman
merek Buavita. Karena
Unilever merupakan perusahaan
besar dan saat ini
Unilever sudah mencapai
tahap mature. saat ini produk – produk yang dipasarkan dibuat melalui
suatu proses yang berkualitasakan memiliki sejumlah keistimewaan yang mampu
meningkatkan kepuasankonsumen atas penggunaan produk tersebut. Dengan demikian
pelanggan maudan rela untuk kembali menikmati apa yang ditawarkan oleh
perusahaan danmenjadi pelanggan yang setia bagi perusahaan. Sedangkan untuk
dapatmendistribusikan kualitas dibidang jasa merupakan hal yang tidak mudah.
Olehkarena itu, dalam proses pendistribusian barang kepada konsumen harus ada
perhatian penuh dari manajemen pemasaran paling atas hingga karyawan level
bawah.
Unilever merupakan sebuah perusahaan yang
memproduksi barang-barangkebutuhan pribadi dan rumah tangga selama puluhan
tahun. Berawal dari duaperusahaan kecil di Inggris dan Belanda yang kemudian
bergabung menjadi satu,saat ini Unilever dikenal sebagai sebuah perusahaan
multinasional yangberoperasi di seluruh dunia. Multinasional Corporation (MNC)
atau perusahaanmultinasional merupakan hal yang lazim didengar di era
globalisasi ini. MNCadalah suatu perusahaan yang beraktivitas di luar negara
asal (home country)dengan saham yang dimiliki oleh beberapa negara dan
aktivitas berada padanegara tujuan (host country)1. Unilever dengan Inggris dan
Belanda sebagai homecountry telah memperluas aktivitas usahanya ke banyak
negara di dunia, salahsatunya di Indonesia.
Kehadiran MNC bagi host country memiliki
sisi positif dan sisi negatif bagi perkembangan dan kemajuan perekonomian di
indonesia. Sisi positif tersebut seperti tawaran pendapatan dari pajak masuk
dan ketersediaan lapangan kerja baru. Sedangkan sisi negatif, terdapat tiga hal
yakni pertama, pada sektor lapangan kerja, beberapa posisi pimpinan perusahaan
ataupun pimpinan pada per sub bidang masih dipegang oleh para pekerja yang
berasal dari home country, sedangkan masyarakat lokal hanya dijadikan buruh
dengan upah yang rendah. Kedua, pada masalah transfer teknologi, dimana dengan
transfer teknologi dikhawatirkan adanya pencurian ide oleh masyarakat lokal,
atau dengan adanya transfer teknologi tersebut produk lokal kalah saing
disebabkan tidak dapat menerapkan teknologi yang sama. Ketiga adalah masalah
kedaulatan negara, dimana MNC seringkali dituduh melunturkan kedaulatan
nasional negara tujuan secara ekonomi, dengan jalan menghindari pajak yang
ketat.
PT. Unilever merupakan bagian dari Perusahaan
multinasional yang menjalankan operasinya ke berbagai negara di seluruh dunia
akan membuat perusahaan memiliki keleluasaan pada penetapan perluasan serta
pengembangan aktivitas bisnis yang akan memberikan keuntungan lebih bagi
perusahaan. Namun, pada perusahaan multinasional akan terdapat proses produksi
yang rumit dan kompleks yang berakibat sulitnya mengukur biaya-biaya yang
muncul terkait pengukuran kinerja perusahaan serta pengawasan. Tidak hanya itu,
perusahaan juga akan mengalami kerumitan dalam menentukan hargapenjualan.
Perusahaan juga akan dituntut agar dapat beradaptasi dengan regulasinegara,
budaya negara, serta perekonomian global yang terus berkembang. Haltersebut
terjadi sebab banyaknya unit bisnis yang terdapat di banyak negara. Padaupaya
ekspansinya, perusahaan multinasional akan lebih mengarah untukmenjalankan
bisnisnya dengan cara desentralisasi serta akan menerapkan rencanacost revenue
profit yang mampu mengukur serta menilai kinerja pada tiap unit ataudivisi yang
berhubungan guna mencapai tujuan perusahaan, oleh karena itu untukmengatasi
kendala tersebut maka perusahaan multinasional umumnya akanmenerapkan metode
transfer pricing yang berguna sebagai alat transfer barangmaupun jasa atas
transaksi yang terjadi antar pihak yang berafiliasi yang mampumelingkupi
berbagai wilayah kedaulatan negara
Keputusan ekonomi yang diambil pemakai
laporan keuangan memerlukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan kas dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut. Para pemakai
dapat mengevaluasi kemampuan perusahaan dengan lebih baik kalau mereka mendapat
informasi yang difokuskan pada posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi
keuangan. Analisis laporan keuangan bertujuan untuk mengevaluasi kondisi atau
posisi keuangan saat ini, yang lalu, dan hasil operasi perusahaan. Proses ini
bertujuan untuk menentukan estimasi terbaik yang mungkin serta prediksi kondisi
yang akan datang atas keuangan dan kinerja perusahaan
Di dalam menghadapi persaingan antar perusahaan, PT. Unilever Indonesia Tbk sudah menyiapkan strategi dan taktik dalam menghadapi persaingan-persaingan antar perusahaan. Mengingat banyaknya pesaing yang berkiprah di dunia internasional, maka sangat diperlukan adanya strategi yang sangat jitu dari perusahaan yang mampu mengangkat namanya di benak para konsumen di berbagai negara.Kesusksesan PT Unilever menjadi market leader dan menguasai penjualan consumer product di Indonesia tidak terlepas dari strategi-strategi yang mereka terapakan dalam perusahan. Ada begitu banyak strategi yangditerapkan PT unilever, terutama dalam pengembangan proses bisnisnya serta penerapan perpajakan yang ada pada proses bisnis di PT. Unilever yang akan kita bahas.
B. PROSES BISNIS YANG SAAT INI BERLANGSUNG
Seperti yang kita ketahui,
Unilever adalah perusahaan multinasional yang memproduksi barang konsumen untuk
memenuhi kebutuhan akan nutrisi, kesehatan dan perawatan pribadi sehari-hari
dengan produk-produk yang membuat para pemakainya merasa nyaman, berpenampilan
baik dan lebih menikmati kehidupan. Rangkaian Produk Unilever Indonesia
mencangkup brand-brand ternama yang disukai di dunia seperti Pepsodent, Lux,
Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight,
Walls, Blue Band, Royco, Bango, dan lain-lain.
Sejak didirikan pada 5 Desember 1933
Unilever Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan terdepan untuk
produk Home and Personal Care serta Foods & Ice Cream di Indonesia.Pada
tanggal 22 November 2000, perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Anugrah
Indah Pelangi, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL)
yang bergerak di bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap,
saus cabe dan saus-saus lain dengan merk dagang Bango, Parkiet dan Sakura dan
merk-merk lain atas dasar lisensi perusahaan kepada PT Al.
Pada tanggal 3 Juli 2002, perusahaan
mengadakan perjanjian dengan Texchem Resources Berhad, untuk mendirikan
perusahaan baru yakni PT Technopia Lever yang bergerak di bidang distribusi,
ekspor dan impor barang-barang dengan menggunakan merk dagang Domestos Nomos.
Pada tanggal 7 November 2003, Texchem Resources Berhad mengadakan perjanjian
jual beli saham dengan Technopia Singapore Pte. Ltd, yang dalam perjanjian
tersebut Texchem Resources Berhad sepakat untuk menjual sahamnya di PT
Technopia Lever kepada Technopia Singapore Pte. Ltd.
Dalam Rapat Umum Luar Biasa perusahaan pada
tanggal 8 Desember 2003, perusahaan menerima persetujuan dari pemegang saham
minoritasnya untuk mengakuisisi saham PT Knorr Indonesia (PT KI) dari Unilever
Overseas Holdings Limited (pihak terkait). Akuisisi ini berlaku pada tanggal
penandatanganan perjanjian jual beli saham antara perusahaan dan Unilever
Overseas Holdings Limited pada tanggal 21 Januari 2004. Pada tanggal 30 Juli
2004, perusahaan digabung dengan PT KI. Penggabungan tersebut dilakukan dengan
menggunakan metoda yang sama dengan metoda pengelompokan saham (pooling of
interest). Perusahaan merupakan perusahaan yang menerima penggabungan dan
setelah penggabungan tersebut PT KI tidak lagi menjadi badan hukum yang
terpisah. Penggabungan ini sesuai dengan persetujuan Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) dalam suratnya No. 740/III/PMA/2004 tertanggal 9 Juli 2004
Pada tahun 2007, PT Unilever Indonesia Tbk.
(Unilever) telah menandatangani perjanjian bersyarat dengan PT Ultrajaya Milk
Industry & Trading Company Tbk (Ultra) sehubungan dengan pengambilalihan
industri minuman sari buah melalui pengalihan merek “Buavita” dan “Gogo” dari
Ultra ke Unilever. Perjanjian telah terpenuhi dan Unilever dan Ultra telah
menyelesaikan transaksi pada bulan Januari 2008.
Perusahaan Unilever termasuk dalam bagian
perusahaan manufaktur, perusahaan manufaktur adalahperusahaan yang kegiatan
proses produksinya mengolah bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian menjual
bahan jadi tersebut. Proses produksi itu sendiri merupakan interaksi antara
bahan dasar, bahan-bahan pembantu, tenaga kerja dan mesin-mesin serta alat-alat
perlengkapan yang digunakan. Dalam perusahaan manufaktur secara langsung
melibatkan perkembangan teknologi dalam kegiatan produksinya. Selain manfaat
bagi kehidupan manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat, agar
mampu berperan dalam persaingan global maka suatu industry perlu terus
mengembangkan dan meningkatkan kualitas dari perusahaan. Baik dari segi
kualitas sumber daya manusia, produk, maupun kemampuan produksi perusahaan
tersebut.
Perusahaan Unilever adalah salah satu
perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang kebutuhan rumah tangga, dimana
dalam perkembangannya perusahaan ini maju cukup pesat. Dalam proses
pembuatannya mengalami banyak masalah seperti halnya cacat produksi yang
disebabkan oleh mesin, kurang baiknya mutu produk yang dihasilkan dan kurang
adanya tenaga ahli. Begitu juga dalam pencatatan, pengolahan data dan
pengarsipan yang sebagian besar masih manual. Jika permasalahan – permasalahan
tersebut tidak ditanggulangi secara cepat maka hal-hal seperti ini dapat
menyebabkan kerugian bagi perusahaan, membuat kecewa pelanggan serta pekerjaan
yang dilakukan menjadi kurang efektif dan efisien. Akibat dari masalah-masalah
itu menyebabkan kurang tepatnya sistem produksi yang dijalankan oleh
perusahaan. Sehingga dalam proses produksi timbul kerugian bagi perusahaan yang
diakibatkan banyaknya cacat produksi yang terjadi.
Di tengah pandemi ini, produk kebutuhan
sehari-hari terutama produk kebersihan diri dan rumah menjadi semakin penting
bagi konsumen. Oleh karena itu perusahaan tetap beroperasi untuk memastikan
ketersediaan produk dan memenuhi kebutuhan konsumen. Upaya tersebut tidak
terlepas dari peranan puluhan ribu karyawan Perusahaan Unilever dan karyawan
mitra-mitra Perusahaan Unilever, terlebih mereka yang terus bekerja tanpa lelah
di lapangan. Perusahaan Unilever senantiasa melindungi kesehatan dan
keselamatan seluruh karyawan dengan memantau kondisi mereka secara harian
bersama dengan tim dokter perusahaan, dan memastikan kelengkapan atribut alat
pelindung diri yang memadai.
Proses bisnis yang di terapkan oleh
perusahaan unilever adalah:
1. Proses Procurement
Proses procurement berkaitan dengan
pengadaan barang serta beragam kebutuhan lain yang berhubungan dengan proses
produksi. Proses ini tidak terbatas pada pengadaan bahan mentah saja. Namun
juga komponen-komponen lain yang menunjang kinerja karyawan.Seperti misalnya
ketersedian alat pembersih, alat medis, alat pelindung diri, alat pertukangan,
kebutuhan gedung, spare part dan lain sebagainya.
2. In Out Inventory
Proses bisnis ini menangani barang yang
masuk dan barang yang keluar dalam perusahaan. Disini perlu adanya pencatatan
baik secara fisik ataupun digital agar kontrol terhadap aliran barang dapat
terjaga sehingga kegiatan perusahaan bisa berjalan dengan baik.
3. Proses Produksi
Proses produksi adalah proses inti dari
perusahaan manufaktur, yakni proses mengubah barang mentah menjadi barang yang
memiliki nilai jual. Proses ini harus berjalan sesuai standar operasional yang
berlaku.Barang yang diproduksi juga harus melewati proses Quality control dan
proses lain sehingga barang hasil akhir produksi sesuai dengan standar yang
ditetapkan oleh perusahaan.
4. Penjualan dan Pemasaran
Kegiatan marketing untuk menghasilkan
penjualan juga merupakan satu proses penting dalam sebuah bisnis, tanpa
strategi pemasaran yang baik maka penjualan barang pun akan nihil. Jika
permintaan barang kecil maka proses manufakturing perusahaan pun sudah tentu
akan terganggu.
5. Administrasi dan Umum
Proses yang berdiri dari awal sampai akhir
dalam perusahan adalah proses administrasi yang meliputi pengarahan,
pengawasan, penentuan kebijakan, manajemen, administrasi perusahaan dan lain
sebagainya.
6. Akuntansi dan Keuangan
Akuntasi bertujuan untuk memastikan keuangan
perusahaan dapat terkelola dengan baik. Dalam akuntansi setiap pengeluaran,
pendapatan dan segala hal yang berkaitan dengan aktivitas keuangan perusahaan
akan tercatat.Nantinya, proses akuntansi akan menghasilkan sebuah laporan yang
bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan arah kebijakan perusahaan
kedepan.
Unilever Indonesia dapat
diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para
konsumen dan para pemangku kepentingan. Visi utama dari perusahaan unilever
sesungguhnya adalah untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia
dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka. Perusahaan
unilever ingin kehadiran perusahaan ini dapat memberikan perubahan yang berarti
bagi para konsumen, pelanggan dan masyarakat. Untuk itu, aktivitas Perusahaan
unilever tidak hanya semata-mata seputar
hal membuat dan menjual produk. Namun, Unilever Indonesia juga ingin memenuhi
kebutuhan dan aspirasi para pemangku kepentingan, khususnya dalam hal nutrisi,
kebersihan dan sanitasi, serta mampu menginpirasi mereka untuk bersama-sama
ikut serta dalam aksi nyata demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah untuk
anak-anak kita dan generasi berikutnya.
Mendasari penjualan tumbuh 2,9%,
didorong oleh peningkatan 1,0% dalam volume yang mendasari dan kenaikan 1,9% di
Harga yang mendasar. Pertumbuhan ini berada di depan pasar perusahaan unilever
yang tumbuh sekitar 2,5% dengan volume datar. Pertumbuhan berbasis luas di
pasar negara berkembang di seluruh kategori perusahaan unilevermengimbangi
penurunan di Eropa. Margin usaha inti perusahaan unilever meningkat sebesar 0,4
poin persentase sebagian besar didorong oleh perbaikan dalam efisiensi melalui
Setengah Proyek perusahaan unilever untuk inisiatif Pertumbuhan, yang
menghasilkan lebih dari € 250 juta tabungan pada tahun 2014 dan berada di trek
untuk melampaui target tahunan perusahaan unilever€ 500.000.000 tabungan. Merek
dan Investasi pemasaran dipertahankan pada tingkat tahun lalu.
Sejak didirikan pada 5 Desember 1933Unilever
Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan terdepan untuk produk Home
and Personal Care serta Foods & Ice Cream di Indonesia.Kini Perseroan ini
memiliki enam pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi, dan dua
pabrik di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, dengan kantor pusat
di Jakarta. Produk-produk Perseroan berjumlah sekitar 32.Di dalam menghadapi
persaingan antar perusahaan PT Unilever tbk memiliki strategi-strategi dalam
menghadapi persaingan antar perusahaan yaitu:
1)
Konsisten
PT Unilever menyampaikan konsistensi dalam
pertumbuhan penjualan yang menjadi dasarnya, margin operasi inti dan arus kas
bebas dengan secara terus-menerus berinvestasi dalam rantai pasokan, merek dan
pemasaran, karyawan dan ITPT Unilever.
2)
Kompetitif
Dengan berinvestasi dalam inovasi, PT
Unileverdapat mengembangkan pangsa pasar PT Unileverseraya berusaha memasuki
pasar baru dan pangsa pasar baru.
3)
Profitable
PT Unilever mengusahakan peningkatan yang
terus-menerus dalam produksi PT Unilever yang berkelas dunia untuk meningkatkan
penghematan biaya dan imbal hasil yang lebih tinggi, memberikan bahan bakar
ekstra bagi pengembangan karena uang tunai dialihkan ke dalam peluang strategis
baru.
4)
Tanggung jawab
Pertumbuhan yang bertanggung jawab adalah
yang melibatkan adanya dampak sosial yang positif dan dampak lingkungan yang
berkurang, yang merupakan esensi USLP dan penting dalam melindungi dan
meningkatkan reputasi PT Unilever.
Model bisnis yang di ambil oleh unilever
adalah
Unilever percaya bahwa pertumbuhan menguntungkan juga harus berupa pertumbuhan yang bertanggung jawab. Pendekatan itu ada di dalam model bisnis kami, didorong oleh kehidupan berkelanjutan dan USLP. Ini memandu pendekatan kami terhadap cara melakukan bisnis dan cara memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat untuk merek yang bertindak secara bertanggung jawab dalam dunia sumber daya yang terbatas. Model bisnis kami diawli dengan wawasan konsumen yang menginformasikan inovasi merek, sering dengan mitra pada rantai pasokan kami, untuk menciptakan produk yang kami bawa ke pasar yang didukung oleh pemasaran dan pengiklanan di seluruh saluran distribusi.
C.
GAMBAR FLOWCHART PROSES BISNIS YANG SAAT INI
BERLANGSUNG
a. Gambar flowchart proses bisnis perusahaan manufaktur secara umum
b. Gambar flowchart proses bisnis Perusahaan Unilever
D.
KEWAJIBAN PERPAJAKAN YANG TIMBUL AKIBAT PROSES
BISNIS
Semua perusahaan baik itu berbentuk
perusahaan perorangan, badan usaha, ataupun badan hukum, apabila telah memiliki
NPWP maka sudah melekat kewajiban perpajakan pada perusahaan tersebut. Hal ini
tercantum dalam Pasal 3 ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah
Terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 (“UU No.6/1983”), Dalam pelaksanaan
kewajiban perpajakan, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada wajib
pajak baik perusahaan maupun perorangan untuk menghitung, menyetor dan
melaporkan pajak secara mandiri atau yang biasa dikenal dengan istilah
“Self-Assesment System”. Walaupun wajib pajak perusahaan diberikan kepercayaan
oleh Kantor Pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya secara mandiri,
namun jangan disalahgunakan, karena sanksinya berat.
Kewajiban perpajakan yang timbul akibat
proses bisnis perusahaan unilever yang akan di bahas lebih detail di pembahasan
kali ini adalah dalam hal aspek pajak pertambahan nilai (PPN). Setiap
perusahaan yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), wajib
melakukan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPN merupakan suatu pajak
yang dikenakan atas konsumsi dalam negeri oleh pribadi, badan atau pemerintah.
Setiap penyerahan barang atau jasa kena pajak yang dilakukan di dalam wilayah
negara Republik Indonesia seperti transaksi jual beli, impor dan ekspor, wajib
dipungut PPN. Tarif PPN untuk penyerahan barang atau jasa kena pajak di dalam
negeri seperti transaksi jual-beli dan impor adalah sebesar 10%, sedangkan
untuk ekspor adalah sebesar 0%.Pengenaan PPN adalah dengan cara mengalikan
tarif dengan harga jual untuk barang atau penggantian untuk jasa. Setiap
perusahaan yang melakukan penyerahan barang atau jasa kena pajak wajib
menerbitkan faktur pajak yang merupakan bukti pungutan PPN dengan menggunakan
aplikasi E-Faktur.
Faktur pajak perusahaan yang diterbitkan
oleh Penjual barang atau jasa kena pajak disebut dengan Faktur Pajak Keluaran.
Sedangkan faktur pajak yang diterbitkan pada saat membeli barang atau jasa kena
pajak disebut dengan Faktur Pajak Masukan. Faktur Pajak Masukan dapat
dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak asalkan tidak bertentangan dengan
ketentuan Pasal 9 UU PPN (UU Nomor 42 Tahun 2009). Mekanisme pembayaran PPN
dalam suatu masa pajak adalah dengan cara menjumlahkan seluruh Faktur Pajak
Keluaran yang dimiliki dalam suatu masa pajak dan dikurangi dengan Faktur Pajak
Masukan yang dimilikinya.
batas waktu pembayaran pajak perusahaan
bulanan, Untuk PPN paling lambat akhir bulan berikutnya Jika wajib pajak
mengalami keterlambatan, maka perusahaan akan didenda. Adapun nilai dendanya
adalah sebesar Rp500.000 untuk SPT Masa PPN untuk setiap Masa Pajak
E.
SOLUSI OPTIMALISASI PERPAJAKAN YANG DAPAT DI
TERAPKAN
Withholding tax adalah salah satu
sistem pemotongan atau pemungutan pajak, di mana pemerintah memberikan
kepercayaan kepada wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban memotong atau
memungut pajak atas penghasilan yang dibayarkan kepada penerima penghasilan
sekaligus menyetorkannya ke kas negara. Bisa diartikan pula bahwa sistem
withholding tax merupakan pembayaran pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Secara empiris, mekanisme Withholding tax
efektif dalammeningkatkan kepatuhan wajib pajak dan penerimaanpajak. Keunggulan
lainnya adalah dapat mengurangibiaya pemungutan pajak bagi pemerintah
danmembantu dalam pengelolaan anggaran karena aruskas masuk lebih cepat
diterima. Di sisi lain, mekanismeini menimbulkan biaya kepatuhan bagi wajib
pajaksehingga membebani arus kas wajib pajak. Pajak yangsudah dipotong atau
dipungut melalui mekanismeWithholding taxdapat dijadikan kredit pajak yang
mengurangipajak terutang akhir tahun, kecuali untuk pemotonganPPh final.
Mekanisme Withholding tax juga diaturdalam UU Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
besertaaturan terkaitnya.Saran pertama yang penulis ajukan untukmeningkatkan
penerimaan pajak adalahmengoptimalkan mekanisme Withholding tax.
Walaupunmekanisme Withholding tax sudah
diperkenalkan sejak lama,namun pelaksanaannya di lapangan masih belumoptimal.
Padahal kontribusi Withholding tax terhadap penerimaanpajak sangat besar yaitu
sekitar 80%. Kurangnyasosialisasi merupakan salah satu penyebab
kurangoptimalnya pelaksanaan Withholding tax, sehingga banyakpemungut atau
pemotong pajak yang belummemahami kewajibannya Beberapa tahun terakhir,
contohnya, banyakkoreksi dilakukan terhadap biaya pengiriman barangseperti
ongkos angkut dan sejenisnya.
Kondisi ini tidak bisa dianggap kesalahan
wajibpajak semata, namun juga menjadi tanggung jawabfiskus, khususnya AR. AR
sebagai konsultan pajak wajibpajak seharusnya menyampaikan informasi ini,
namunkadang AR pun tidak memahami aturan perpajakanyang terkait dengan proses
bisnis wajib pajakbinaannya. Peran AR juga dirasa kurang maksimaldalam
memberikan edukasi kepada wajib pajak. Pengetahuan pajak/akuntansi dan
kemampuankomunikasi AR masih perlu ditingkatkan. Subroto (2020, 265) mengatakan
bahwa praktikadministrasi perpajakan Indonesia didominasi olehrezim target yang
sangat kuat. Rezim target ini telahmenjadi budaya organisasi DJP, tepatnya
menjadishared values.
Pencapaian target penerimaan telahdijadikan
sasaran dan perhatian utama bagi Sebagian besar anggota organisasi yang
membentuk perilakukelompok dan bertahan dalam jangka waktu yanglama, bahkan
ketika anggota organisasi berubah(Kotler, 1996 dalam Subroto, 2020: 265). Rezim
targetmembentuk administrasi pajak yang jauh daripelayanan dan kewajaran,
cenderung mengabaikanpendekatan manusiawi karena wajib pajak dianggapobjek
untuk mencapai target, bukan mitra, apalagicustomer (Subroto, 2020: 269-270).
Seyogyanya AR perlu memahami bahwa setiapwajib pajak memiliki beragam karakter
yangdipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain tingkatpendidikan, budaya, dan
bahasa. Jika AR mampuberkomunikasi dengan baik ditambah denganpengetahuan pajak
dan akuntansi yang mumpuni,maka AR dapat menjalankan perannya secara maksimal.
Kedepan, AR perlu sangat intens dalammengedukasi wajib pajak tentang mekanisme Withholding
taxini.Untuk itu, AR perlu memahami proses bisnis wajibpajak agar bisa
menjelaskan transaksi apa saja yangperlu dipungut atau dipotong pajaknya. Optimalisasi
mekanisme Withholding taxini juga dapatdilakukan dengan menambah objek
pajaknya. Namunyang jauh lebih penting adalah edukasi kepada wajibpajak baik
pihak yang memotong maupun pihak yangdipotong. Sehingga penyetoran pajak
pertambahan nilai di perusahaan unilever lebih terstruktur dan transparan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar